Senin, 27 Februari 2012

TONSILOFARINGITIS AKUT

A.DEFINISI TONSILOFARINGITIS AKUT
Tonsilofaringitis akut adalah peradangan pada tonsil dan faring yang masih bersifat ringan. Radang faring pada anak hampir selalu melibatkan organ sekitarnya sehingga infeksi pada faring biasanya juga mengenai tonsil sehingga disebut sebagai tonsilofaringitis ( Ngastiyah,1997 ).
Tonsilofaringitis akut merupakan faringitis akut dan tonsilitis akut yang ditemukan bersama – sama ( Efiaty, 2002 ).

B.ETIOLOGI TONSILOFARINGITIS AKUT
Penyebab tonsilofaringitis bermacam – macam, diantaranya adalah yang tersebut dibawah ini yaitu :
1.Streptokokus Beta Hemolitikus
2.Streptokokus Viridans
3.Streptokokus Piogenes
4.Virus Influenza
Infeksi ini menular melalui kontak dari sekret hidung dan ludah (droplet infections)

C.PROSES PATOLOGI TONSILOFARINGITIS AKUT
Bakteri dan virus masuk masuk dalam tubuh melalui saluran nafas bagian atas akan menyebabkan infeksi pada hidung atau faring kemudian menyebar melalui sistem limfa ke tonsil. Adanya bakteri dan virus patogen pada tonsil menyebabkan terjadinya proses inflamasi dan infeksi sehingga tonsil membesar dan dapat menghambat keluar masuknya udara. Infeksi juga dapat mengakibatkan kemerahan dan edema pada faring serta ditemukannya eksudat berwarna putih keabuan pada tonsil sehingga menyebabkan timbulnya sakit tenggorokan, nyeri telan, demam tinggi bau mulut serta otalgia.

D.TANDA DAN GEJALA TONSILOFARINGITIS AKUT
Tanda dan gejala tonsilofaringitis akut adalah :
1.Nyeri tenggorok
2.Nyeri telan
3.Sulit menelan
4.Demam
5.Mual
6.Anoreksia
7.Kelenjar limfa leher membengkak
8.Faring hiperemis
9.Edema faring
10.Pembesaran tonsil
11.Tonsil hiperemia
12.Mulut berbau
13.Otalgia ( sakit di telinga )
14.Malaise

E.PEMERIKSAAN PENUNJANG TONSILOFARINGITIS AKUT
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosa tonsilofaringitis akut adalah pemeriksaan laboratorium meliputi :
1.Leukosit : terjadi peningkatan
2.Hemoglobin : terjadi penurunan
3.Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensitifitas obat

F.KOMPLIKASI TONSILOFARINGITIS
Komplikasi yang dapat muncul bila tonsilofaringitis akut tidak tertangani dengan baik adalah :
1.Tonsilofaringitis kronis
2.Otitis media

G.PENATALAKSANAAN TONSILOFARINGITIS
Penanganan pada anak dengan tonsilofaringitis akut adalah :
1.Penatalaksanaan medis
a.Antibiotik baik injeksi maupun oral seperti cefotaxim, penisilin, amoksisilin, eritromisin dll
b.Antipiretik untuk menurunkan demam seperti parasetamol, ibuprofen.
c.Analgesik
2.Penatalaksanaan keperawatan
a.Kompres dengan air hangat
b.Istirahat yang cukup
c.Pemberian cairan adekuat, perbanyak minum hangat
d.Kumur dengan air hangat
e.Pemberian diit cair atau lunak sesuai kondisi pasien

H.FOKUS PENGKAJIAN TONSILOFARINGITIS
1.Keluhan utama
sakit tenggorokan, nyeri telan, demam dll
2.Riwayat penyakit sekarang : serangan, karakteristik, insiden, perkembangan, efek terapi dll
3.Riwayat kesehatan lalu
a.Riwayat kelahiran
b.Riwayat imunisasi
c.Penyakit yang pernah diderita ( faringitis berulang, ISPA, otitis media )
d.Riwayat hospitalisasi
4.Pengkajian umum
usia, tingkat kesadaran, antopometri, tanda – tanda vital dll
5.Pernapasan : Kesulitan bernafas, batuk. Ukuran besarnya tonsil dinyatakan dengan :
a.T0 : bila sudah dioperasi
b.T1 : ukuran yang normal ada
c.T2 : pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah
d.T3 : pembesaran mencapai garis tengah
e.T4 : pembesaran melewati garis tengah
6.Nutrisi : sakit tenggorokan, nyeri telan, nafsu makan menurun, menolak makan dan minum, turgor kurang
7.Aktifitas / istirahat : anak tampak lemah, letargi, iritabel, malaise
8.Keamanan / kenyamanan : kecemasan anak terhadap hospitalisasi

I.DIAGNOSA DAN INTERVENENSI PADA PASIEN TONSILOFARINGITS
1.Hipertermia berhubungan dengan penyakit.
Tujuan: Hipertermia teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam dengan kriteria hasil:
Suhu: 36-37C/axila
Pernapasan 12-21x/mnt
Tekanan darah 120-129/80-84mmHg
Nadi 60-100x/mnt
Intervensi:
1)Ukur tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, saturasi
R/mengetahui keadaan klien
2)Anjurkan untuk banyak minum ± 2 L/hari
R/memenuhi kebutuhan cairan
3)Anjurkan untuk cukup istirahat
R/mempercepat pemulihan kondisi
4)Anjurkan untuk menggunakan pakaian yang tipis
R/ mengurangi rasa panas
5)Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien
R/mencukupi kebutuhan pasien
6)Beri kompres hangat
R/vasodilatasi pembuluh darah
7)Kolaborasi/lanjutkan pemberian therapi antipiretik; nama, dosis, waktu, cara, indikasi
R/mempercepat penyembuhan
2.Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan melalui rute normal (diare), abnormal (perdarahan).
Tujuan: Resiko defisit volume cairan teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24jam dengan kriteria hasil:
BB dalam batas normal
Tekanan darah 120-129/80-84mmHg
Nadi 60-100x/mnt
Suhu: 36-37C/axila
Finger print <3 detik BAK 3-5x/hari Tidak ada perdarahan Intevensi: 1)Ukur tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, saturasi R/mengetahui keadaan pasien 2)Anjurkan untuk banyak minum ± 2 L/hari R/memenuhi kebutuhan cairan 3)Hitung balance cairan R/mengetahui klebihan dan kekurang cairan 4)Anjurkan untuk bed rest R/mempercepat pemulihan kondisi 5)Kolaborasi/lanjutkan pemberian terapi elektrolit; nama, dosis, waktu, cara, indikasi R/mempercepat penyembuhan 6)Kolaborasi/lanjutkan program therapi transfusi R/mempercepat pemulihan kesehatan pasien 3.Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis, fisik. Tujuan: Nyeri akut teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24jam dengan kriteria hasil: Pasien tidak mengeluh nyeri Pasein tidak mengeluh sesak Pernapasan 12-21x/mnt Tekanan darah 120-129/80-84mmHg Nadi 60-100x/mnt Intervensi: 1)Ukur tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, saturasi R/mengetahui kondisi pasien 2)Monitor derajat dan kualitas nyeri (PQRST)? R/mengetahui rasa nyeri yang dirasakan 3)Ajarkan teknik distraksi/relaksasi/napas dalam R/mengurangi rasa nyeri 4)Beri posisi nyaman R/untuk mengurangi rasa nyeri 5)Beri posisi semifowler R/memenuhi kebutuhan oksigen 6)Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien R/memenuhi kebutuhan pasien 7)Anjurkan untuk cukup istirahat R/mempercepat proses penyembuhan 8)Kolaborasi/lanjutkan pemberian analgetik; nama, dosis, waktu, cara, indikasi R/mengurangi rasa nyeri 4.Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakmampuan dalam memasukkan, mencerna, mengabsorbsi makanan karena faktor biologi. Tujuan: Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi setalah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam dengan kriteria hasil: Pasien tidak mengeluh lemas Makan habis 1 porsi Pasien tidak mual Pasien tidak muntah Berat badan normal/ideal Konjungtiva merah muda Rambut tidak rontok Intervensi: 1)Ukur tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, saturasi R/mengetahui keadaan pasien 2)Timbang berat badan R/mengetahui perubahan berat badan pasien 3)Monitor adanya mual dan muntah R/mengetahui keadaan pasien 4)Monitor tonus otot, rambut merah dan mudah patah R/mengetahui status kesehatan pasien 5)Monitor intake makanan/minuman R/mengetahui nutrisi yang dikonsumsi pasien 6)Anjurkan untuk cukup istirahat R/mempercepat pemulihan kondisi 7)Anjurkan makan sedikit dan sering R/supaya tidak mual dan tidak muntah 8)Anjurkan pasien untuk meningkatkan makanan yang mengandung zat besi, Vitamin B12, tinggi protein, dan Vitamin C R/mempercepat pemulihan kondisi pasien 9)Kolaborasi/lanjutkan pemberian obat; nama, dosis, waktu, cara, indikasi R/mempercepat penyembuhan

Tidak ada komentar: