Sabtu, 11 Juni 2011

TRAUMA DADA

     A.      DEFINISI
Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001).
Trauma adalah cedera/ rudapaksa atau kerugian psikologis atau emosional (Dorland, 2002).
Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul (Hudak, 1999).
Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan emosional yang hebat (Brooker, 2001).

     B.      ETIOLOGI
1.      Tamponade jantung : disebabkan luka tusuk dada yang tembus ke mediastinum/daerah jantung.
2.      Hematotoraks : disebabkan luka tembus toraks oleh benda tajam, traumatik atau spontan.
3.    Pneumothoraks : spontan (bula yang pecah) ; trauma (penyedotan luka rongga dada) ; iatrogenik (“pleural tap”, biopsi paaru-paru, insersi CVP, ventilasi dengan tekanan positif).

     C.      TANDA DAN GEJALA
1.    Tamponade jantung : Trauma tajam didaerah perikardium atau yang diperkirakan menembus jantung.
a.       Gelisah
b.      Pucat
c.       keringat dingin
d.      Peninggian TVJ (tekanan vena jugularis)
e.       Pekak jantung melebar
f.        Bunyi jantung melemah.
g.       Terdapat tanda-tanda paradoxical
h.       Pulse pressure
i.         ECG terdapat low voltage seluruh lead
j.        Perikardiosentesis keluar darah (FKUI, 1995)
2.      Hematotoraks :
a.       Pada WSD darah yang keluar cukup banyak dari WSD
b.      Gangguan pernapasan (FKUI, 1995)
3.      Pneumothoraks :
a.       Nyeri dada mendadak dan sesak napas
b.      Gagal pernapasan dengan sianosis
c.       Kolaps sirkulasi
d.    Dada atau sisi yang terkena lebih resonan pada perkusi dan suara napas yang terdengar jauh atau tidak terdengar sama sekali
e.       Pada auskultasi terdengar bunyi klik (Ovedoff, 2002)
f.   Jarang terdapat luka rongga dada, walaupun terdapat luka internal hebat seperti aorta yang ruptur. Luka tikaman dapat penetrasi melewati diafragma dan menimbulkan luka intra-abdominal (Mowschenson, 1990).

     D.      PATOFISIOLOGI
Tusukan/tembakan ; pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, ,spontan →  Trauma dada →:
1.     Tamponade jantung → Perdarahan dalam perikardium → Nyeri akut → Pengaliran darah kembali ke atrium → Lambat tertolong dapat menyebabkan kematian.
2.      Hematotoraks → Perdarahan/syok →  Ketidakefektifan pola napas
3.      Pneumothoraks → Udara masuk kedalam rongga pleural → Udara tidak dapat keluar → Tekanan pleura meningkat.
4.      1, 2, & 3 dapat menyebabkan Ketidakefektifan pola napas.

      E.      KOMPLIKASI
1.      Iga: fraktur multiple dapat menyebabkan kelumpuhan rongga dada
2.      Pleura, paru-paru, bronkhi: hemo/hemopneumothoraks-emfisema pembedahan.
3.      Jantung : tamponade jantung, ruptur jantung, ruptur otot papilar, ruptur klep jantung
4.      Pembuluh darah besar : hematothoraks.
5.      Esofagus : mediastinitis
6.      Diafragma : herniasi visera dan perlukaan hati, limpa dan ginjal (Mowschenson, 1990).

      F.      PEMERIKSAANPENUNJANG
1.      Radiologi : foto thorax (AP)
2.      Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau menurun
3.      Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa.
4.      Hemoglobin : mungkin menurun
5.      Pa Co2 kadang-kadang menurun
6.      Pa O2 normal / menurun
7.      Saturasi O2 menurun (biasanya)
8.      Toraksentesis : menyatakan darah/cairan

     G.      PENATALAKSANAAN
1.      WSD
2.      Chest tube / drainase udara (pneumothorax)
3.      Pungsi
4.      Torakotomi
5.      Pemberian oksigen


     A.      IDENTITAS KLIEN
Nama:
Tempet/tanggal lahir:
Usia:
Agama:
Suku:
Status perkawinan:
Pendidikan:
Bahasa yang digunakan:
Alamat:
Dx medik:
     B.      IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB
Nama:
Alamat:
Hubungan dengan klien:
     C.      RIWAYAT KEPERAWATAN MASA LALU
Penyakit yang pernah diderita:
Kebiasaan buruk:
Penyakit keturunan :
Alergi :
Imunisasi:
Operasi:
     D.      RIWAYAT KEPERAWATAN SEKARANG
Alasan masuk:
Tindakan/terapi yang sudah diterima:
Keluhan utama:
      E.      PENGKAJIAN PERPOLA KESEHATAN
1.      Persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
Sebelum sakit:
Bagaimana klien menjaga kesehatan?
Bagaimana cara menjaga kesehatan?
Saat  sakit:
Apakah klien tahu tentang penyakitnya?
Tanda dan gejala apa yang sering muncul jika terjadi rasa sakit?
Apa yang dilakukan jika rasa sakitnya timbul?
Apakah pasien tahu penyebab dari rasa sakitnya?
Tanda dan gejala apa yang sering muncul jika terjadi rasa sakit?
2.      Nutrisi metabolik
Sebelum sakit:
Makan/minu; frekuensi, jenis, waktu, volume, porsi?
Apakah ada mengkonsumsi obat-obatn seperti vitamin?
Saat sakit:
Apakah klien merasa mual/muntah/sulit menelan?
Apakah klien mengalami anoreksia?
Makan/minu: frekuensi, jenis, waktu, volume, porsi?
3.      Eliminasi
Sebelum sakit:
Apakah BAB/BAK teratur; frekuensi, warna, konsistensi, keluhan nyeri?
Apakah mengejan saat BAB/BAK sehingga berpengaruh pada pernapasan?
Saat sakit:
Apakah BAB/BAK teratur: frekuensi, waktu, warna, konsistensi, keluhan nyeri?
4.      Aktivitas dan latihan
Sebelum sakit:
Apakah bisa melakukan aktivitas sehari-hari dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Apakah mengalami kelelahan saat aktifvitas?
Apakah mengalami sesak nafas saat beraktivitas?
Saat sakit:
Apakah memerlukan bantuan saat beraktivitas (penkes, sebagian, total)?
Apakah ada keluhan saat beraktivitas (sesak, batuk)?
5.      Tidur dan istirahat
Sebelum sakit:
Apakah tidur klien terganggu?
Berapa lama, kualitas tidur (siang dan/malam ?
Kebiasaan sebelum tidur?
Saat sakit:
Apakah tidur klien terganggu, penyebab?
Berapa lama, kualitas tidur (siang dan/malam) ?
Kebiasaan sebelum tidur?
6.      Kognitif dan persepsi sensori
Sebelum sakit:
Bagaimana menghindari rasa sakit?
Apakah mengalami penurunan fugsi pancaindera, apa saja?
Apakah menggunakan alat bantu (kacamata)?
Saat sakit:
Bagaimana menghindari rasa sakit?
Apakah mengalami nyeri (PQRST)?
Apakah mengalami penurunan fugsi pancaindera, apa saja?
Apakah merasa pusing?
7.      Persepsi dan konsep diri
Sebelum sakit:
Bagaimana klien menggambarkan dirinya?
Saat sakit:
Bagaimana pandangan pasien dengan dirinya terkait dengan penyakitnya?
Bagaimana harapan klien terkait dengan penyakitnya?
8.      Peran dan hubungan dengan sesama
Sebelum sakit:
Bagaimana hubungan klien dengan sesama?
Saat sakit:
Bagaimana hubungan dengan orang lain (teman, keluarga, perawat, n dokter)?
Apakah peran/pekerjaan terganggu, siapa yang menggantikan?
9.      Reproduksi dan seksualitas
Sebelum sakit:
Apakah ada gangguan hubungan seksual klien?
Saat sakit:
Apakah ada gangguan hubungan seksual klien?
10.  Mekanisme koping dan toleransi terhadap stres
Sebelum sakit:
Bagaimana menghadapi masalah?
Apakah klien stres dengan penyakitnya?
Bagaimana klien mengatasinya?
Siapa yang biasa membantu mengatasi/mencari solusi?
Saat sakit:
Bagaimana menghadapi masalah?
Apakah klien stres dengan penyakitnya?
Bagaimana klien mengatasinya?
Siapa yang biasa membantu mengatasi/mencari solusi?
11.  Nilai dan kepercayaan
Sebelum sakit:
Bagaimana kebiasaan dalam menjalankan ajaran Agama?
Saat sakit:
Apakah ada tindakan medis yang bertentangan kepercayaan?
Apakah penyakit yang dialami mengganggu dalam menjalankan ajaran Agama yang dianut?
Bagaimana persepsi terkait dengan penyakit yang dialami dilihat dari sudut pandang nilai dan kepercayaan?

      F.      PEMERIKSAAN FISIK
1.      Keadaan umum:
Tidak tampak sakit: mandiri, tidak terpasang alat medis
Tampak sakit ringan: bedrest ,terpasang infus
Tampak sakit sedang: bedrest, lemah, terpasang infus, alat medis
Tampak sakit berat: menggunakan oksigen, coma
2.      Kesadaran:
Kuantitatif:
Mata :
Spontan(4)
Atas permintaan(3)
Rangsang nyeri(2)
Tidak bereaksi(1)
Verbal:
Orientasi baik(5)
Jawaban kacau(4)
Kata-kata sepatah(3)
Merintis/mengerang(2)
Tidak bersuara(1)
Motorik:
Menurut perintah(6)
Reaksi setempat(5)
Menghindar(4)
Fleksi abnormal(3)
Ekstensi nyeri(2)
Tidak bereaksi(1)
Kualitatif: compos mentis, apatis, somnolen, sopor, soporcoma, coma?
3.      Tanda-tanda vital:
T: hipertermi?
N: cepat, tidak teratur, frekuensi, irama, volume?
RR: cepat, irama, jenis, frekuensi?
TD:?
SPO:?
4.      Status gizi: TB, BB, BBN, BBI?
5.      Pemeriksaan sistemik:
Head to toe:
Dada : Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi?

     G.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Radiologi : foto thorax (AP)
2.      Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau menurun
3.      Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa.
4.      Hemoglobin : mungkin menurun
5.      Pa Co2 kadang-kadang menurun
6.      Pa O2 normal / menurun
7.      Saturasi O2 menurun (biasanya)

     H.      TERAPI
Terapi yang didapat: nama oabat, dosis, waktu, rute, indikasi?

        I.      DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
1.    Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi, nyeri, cemas, kelelahan otot pernapasan, defornitas dinding dada.
Intervensi:
1)      Monitor TTV; TD, N, RR
R/mengetahui keadaan klien
2)      Monitor kemampuan aktivitas klien
R/mengetahui kemampuan klie
3)      Anjurkan untuk bedrest
R/mempercepat pemulihan kondisi
4)      Beri posisi semifowler
R/memenuhi kebutuhan oksigen
5)      Bantu aktivitas klien secara bertahap
R/mengurangi beban kerja klien
6)      Beri cukup nutrisi sesuai dngan diet
R/mempercepat pemulihan kondisi
7)      Kolaborasi/lanjutkan terapi oksigen
R/mencukupi kebutuhan oksigen
2.   Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan spasme jalan nafas, sekresi di bronkus, eksudat di alveoli, sekresi yang tertahan, benda asing di jalan napas.
Intervensi:
1)      Kaji fungsi pernapasa: frekuensibunyi, iramajenis
R/mengetahui pola napas klien
2)      Beri posisi semifowler
R/memenuhi kebutuhan oksigen
3)      Suction bila perlu
R/membersihkan jalan napas
4)      Ajarkan teknik batuk efektif
R/mengeluarkan sekret yang tertahan
5)      Anjurkan minum air hangat
R/mengurangi sekret
6)      Kolaborasi/lanjutkan terapi oksigen
R/mencukupi kebutuhan oksigen
7)      Kolaborasi/lanjutkan pemberian mukolitik; nama, dosis, waktu, cara, indikasi
R/mengurangi sekret
3.      Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler – alveolar.
Intervensi:
1)      Kaji fungsi pernapasa: frekuensi, bunyi, iramajenis
R/mengetahui pola napas klien
2)      Monitor adanya sianosis
R/mengetahui keadaan klien
3)      Monitor kepatenan WSD
R/mengetahui keadaan WSD
4)      Beri posisi semifowler
R/memenuhi kebutuhan oksigen
5)      Suction bila perlu
R/membersihkan jalan napas
6)      Ajarkan teknik batuk efektif
R/mengeluarkan sekret yang tertahan
7)      Anjurkan minum air hangat
R/mengurangi sekret
8)      Kolaborasi/lanjutkan terapi oksigen
R/mencukupi kebutuhan oksigen
9)      Kolaborasi/lanjutkan pemberian mukolitik; nama, dosis, waktu, cara, indikasi
R/mengurangi sekret
4.     Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, prosedur invasif, pertahanan sekunder tidak adekuat.
Intervensi:
1)      Monitor tanda-tanda peradangan
R/untuk melihat tanda-tanda peradangan
2)      Monitor pemeriksaan Lab darah
R/untuk melihat hasil lab darah
3)      Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
R/untuk menghindari inos
4)      Anjurkan untuk bedrest
R/mempercepat pemulihan kondisi
5)      Batasi pengunjung
R/untuk mencegah inos
6)      Rawat luka setiap hari dengan teknik steril
R/mencegah infeksi
7)      Beri nutrisi tinggi zat besi, vitamin C
R/untuk membantu proses penyembuhan luka
8)      Kolaborasi/lanjutkan pemberian obat antibiotik; nama, dosis, waktu, cara
R/mempercepat penyembuhan
5.      Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis.
Intervensi:
1)      Monitor derajat dan kualitas nyeri (PQRST)?
R/mengetahui rasa nyeri yang dirasakan
2)      Ajarkan teknik distraksi/relaksasi
R/mengurangi rasa nyeri
3)      Beri posisi nyaman
R/untuk mengurangi rasa nyeri
4)      Beri posisi semifowler
R/memenuhi kebutuhan oksigen
5)      Kolaborasi/lanjutkan pemberian analgetik; nama, dosis, waktu, cara, indikasi
R/mengurangi rasa nyeri
6.      Perfusi jaringan serebral/ferifer tidak efektik berhubungan dengan aliran arteri terhambat.
Intervensi:
1)      Ukur TTV; TD, N, RR
R/mengetahui keadaan klien
2)      Monitor capiler refill
R/mengetahui status keadaan klien
3)      Monitor kemampuan aktivitas klien
R/mengetahui kemampuan klie
4)      Anjurkan untuk bedrest
R/mempercepat pemulihan kondisi
5)      Beri posisi semifowler
R/memenuhi kebutuhan oksigen
Bantu aktivitas klien secara bertahap
R/mengurangi beban kerja klien
6)      Cegah fleksi tungkai
R/menghindari penurunan staus kesadaran klien
7)      Beri cukup nutrisi sesuai dngan diet
R/mempercepat pemulihan kondisi
8)      Kolaborasi/lanjutkan terapi oksigen
R/mencukupi kebutuhan oksigen
9)      Kolaborasi/lanjutkan therapi trasfusi
R/mempercepat pemulihan kondisi klien
10)  Kolaborasi/lanjutkan pemberian obat; nama, dosis, waktu, cara, indikasi
R/mempercepat proses penyembuhan

Boedihartono. 1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta:EGC
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta: EGC
Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. Jakarta: EGC
Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. Jakarta. EGC
Hudak. 1999. Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC.
Mowschenson. 1990. Segi Praktis Ilmu Bedah Untuk pemula. Edisi 2. Jakarta: Binarupa Aksara
Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8 Vol.3. Jakarta: EGC
Wilkinson. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7.
Jakarta:EGC

Tidak ada komentar: