Senin, 30 April 2012

MANAJEMEN PELAYANAN KEPERAWATAN

1.Pendekatan Manajemen Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional. Manajer keperawatan dituntut untuk merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang tersedia untuk dapat memberikan asuhan keperawatan yang seefektif dan seefisien mungkin bagi individu, keluarga, dan masyarakat. Proses manajemen keperawatan sejalan dengan proses keperawatan sebagai satu metode pelaksanaan asuhan keperawatan secara professional dan saling menopang (Nursalam, 2007). Pendekatan manajemen keperawatan terdiri dari: a.Planning (perencanaan) Perencanaan merupakan fungsi dasar manajemen yaitu suatu tugas prinsip dari semua manajer dalam divisi keperawatan. Elemen pertama dari manajemen menurut Fayol adalah perencanaan. Ia mendefinisikan hal ini sebagai membuat rencana tindakan untuk memberikan pandangan kedepan (Swanburg, 2000). Perencanaan dimaksudkan untuk menyusun suatu perencanaan yang strategis dalam mencapai suatu tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Perencanaan dibuat untuk menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan kepada semua pasien, menegakkan tujuan, mengalokasikan anggaran belanja, memutuskan ukuran dan tipe tenaga keperawatan yang dibutuhkan, membuat pola struktur organisasi yang dapat mengoptimalkan efektifitas staf serta menegakkan kebijaksanaan dan prosedur operasional untuk mencapai visi dan misi institusi yang telah ditetapkan. Fungsi perencanaan merupakan landasan dasar dari fungsi manajemen secara keseluruhan. Tanpa ada fungsi perencanaan tidak mungkin manajemen lainnya akan dapat dilaksanakan dengan baik. Perencanaan manajerial akan memberikan pola pandang secara menyeluruh terhadap semua pekerjaan yang akan dijelaskan siapa yang akan melakuakan dan kapan akan dilakukan. Perencanaan merupakan tuntunan terhadap proses pencapaian tujuan secara efisien dan efektif (Kuntoro, 2010). Kerangka perencanaan terdiri dari : 1)Misi, berisi tujuan jangka panjang mengenai bagaimana langkah-langkah dari profesi keperawatan dalam melaksanakan visi yang telah ditetapkan 2)Filosofi, sesuatu yang bisa menguatkan motivasi. 3)Tujuan, berisikan tujuan yang ingin dicapai. 4)Obyektif, berisi langkah-langkah rinci bagaimana mencapai tujuan. 5)Prosedur, berisi pelaksanaan perencanaan. 6)Aturan, berisi langkah-langkah antisipasi untuk hal-hal yang menyimpang. Perencanaan meliputi: 1)Jangka pendek (target waktu dalam minggu/bulan) 2)Jangka menengah (periode dalam satu tahun) 3)Jangka panjang (untuk tahun mendatang) Berdasarkan buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di RS (1999) tugas kepala ruang dalam perencanaan (P1) meliputi : 1)Menyusun rencana kerja kepala ruang 2)Berperan serta menyusun falsafah dan tujuan pelayanan keperawatan di ruang rawat yang bersangkutan 3)Menyusun rencana kebutuhan tenaga keperawatan dari segi jumlah maupun kualifikasi untuk di ruang rawat, koordinasi dengan Kepala Perawat Instalasi/Ka Instalasi Setiap bulan Kepala Ruangan telah membuat perencanaan bulanan seperti rapat bulanan di ruangan. Kepala ruang menyusun jadual dinas dalam satu bulan. Mengenai pengembangan SDM, kepala ruangan dilibatkan dalam menyusun rencana pendidikan dan pelatihan dan dilibatkan dalam penentuan perawat untuk pelatihan yang ada. Dalam penyusunan RAPB Kepala ruang dilibatkan dalam pembuatan rencana RAPB ruangan dalam 1 tahun. b.Organizing (pengorganisasian) Pengorganisasian merupakan fungsi manajemen organisasi yang kedua sesudah perencanaan. Pengorganisasian adalah pengelompokan aktivitas-aktivitas untuk mencapai tujuan objektif, penugasan suatu kelompok manajer dengan autoritas pengawasan setiap kelompok dan menentukan cara dari pengkoordinasian aktivitas yang tepat dengan unit lainnya, baik secara vertikal maupun horizontal yang bertanggung jawab untuk mencapai objektif organisasi. Dalam pengorganisasian menentukan tentang tenaga yang akan melaksanakan perencanaan, pembagian tugas, wewenang, tanggung jawab dan mekanisme pertanggungjawaban masing-masing kegiatan. Menurut Nursalam (2002). Fungsi pengorganisasian dari kepala ruang adalah sebagai berikut: 1)Merumuskan metode penugasan yang digunakan 2)Merumuskan tujuan metode penugasan. 3)Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota secara jelas. 4)Membuat rentang kendali kepala unit membawahi 2 ketua tim dan ketua tim membawahi 2-3 perawat. 5)Mengatur dan mengendalikan logistik unit. 6)Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik. 7)Mendelegasikan tugas saat kepala unit tidak berada di tempat kepada ketua tim. 8)Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi klien. 9)Mengatur penugasan jadwal pos dan pekarya. 10)Identifikasi masalah dan cara penanganan. Hoffart dan Woods (1996), mendefinisikan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) sebagai suatu sistem (struktur, proses, nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk mendukung pemberian asuhan keperawatan. MPKP terdiri dari elemen sub sistem antara lain: 1)Nilai-nilai profesional (inti MPKP) 2)Pendekatan manajemen 3)Metode pemberian asuhan keperawatan 4)Hubungan profesional 5)Sistem kompensasi dan penghargaan Dalam sistem pemberian asuhan keperawatan ada beberapa teori mengenai metode asuhan keperawatan. Menurut Gillis (1989) metode asuhan keperawatan terdiri dari metode kasus, metode fungsional, metode tim dan metode primer. 1)Metode kasus (Total Care Method) Metode ini merupakan metode tertua (tahun 1880) dimana seorang klien dirawat oleh seorang perawat selama 8 jam perawatan. Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shif dan tak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat dan hal ini umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk keperawatan khusus seperti di ruang rawat intensif. Kelebihan dari metode ini adalah: a)Sederhana dan langsung b)Garis pertanggungjawaban jelas c)Kebutuhan klien cepat terpenuhi d)Memudahkan perencanaan tugas Kekurangan dari metode ini adalah: a)Belum dapat diidentifikasi perawat penanggung jawab b)Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang sama c)Tak dapat dilakukan oleh perawat baru atau kurang pengalaman d)Mahal, perawat profesional termasuk melakukan tugas non profesional 2)Metode fungsional Metode ini dilakukan pada kelompok besar klien. Pelayanan keperawatan dibagi menurut tugas yang berbeda dan dilaksanakan oleh perawat yang berbeda dan tergantung pada kompleksitas dari setiap tugas. Misalnya fungsi menyuntik, membagi obat, perawatan luka. Metode ini merupakan manajemen klasik yang menekankan pada efisiensi, pembagian tugas yang jelas dan pengawasan yang lebih mudah. Semua prosedur ditentukan untuk dipakai sebagai standar. Perawat senior menyibukkan diri dengan tugas manajerialnya sedangkan asuhan keperawatan klien diserahkan kepada perawat yunior. Meskipun sistem ini efisien namun penugasan secara fungsi tidak memberikan kepuasan kepada klien dan perawat karena asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien terfragmentasi menurut tugas atau perasat yang dilakukan. Cara kerja yang diawasi membosankan perawat karena berorientasi pada tugas dan sistem ini baik dan berguna untuk situasi dimana rumah sakit kekurangan tenaga perawat, namun disisi lain asuhan ini tidak profesional dan tidak berdasar pada masalah klien. Keuntungan dari metode ini adalah : a)Lebih sedikit membutuhkan perawat b)Efisien c)Tugas mudah dijelaskan dan diberikan d)Para staf mudah menyesuaikan dengan tugas e)Tugas cepat selesai Kerugian dari metode ini adalah: a)Tidak efektif b)Fragmentasi pelayanan c)Membosankan d)Komunikasi minimal e)Tidak holistik f)Tidak profesional g)Tidak memberikan kepuasan kepada klien dan perawat 3)Metode Tim Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok klien. Ketua tim bertanggung jawab membuat perencanaan dan evaluasi asuhan keperawatan untuk semua klien yang ada di bawah tanggung jawab timnya. Anggota tim melaksanakan asuhan keperawatan kepada klien sesuai perencanaan yang telah dibuat oleh ketua tim. Tujuan perawatan ini adalah memberikan asuhan keperawatan yang lebih baik dengan menggunakan sejumlah staf yang tersedia. Keuntungan dari metode ini adalah: a)Memberikan kepuasan bagi perawat dan klien b)Kemampuan anggota tim dikenal dan dimanfaatkan secara optimal c)Komprehensif dan holistik d)Produktif, kerjasama, komunikasi dan moral Kerugian dari metode ini adalah: a)Tidak efektif bila pengaturan tidak baik b)Membutuhkan banyak kerjasama dan komunikasi c)Membingungkan bila komposisi tim sering diubah d)Banyak kegiatan keperawatan dilakukan oleh perawat non profesional 4)Metode primer Metode ini merupakan suatu metode penugasan kerja terbaik dalam suatu pelayanan dengan semua staf keperawatan yang profesional. Pada metode ini setiap perawat primer memberikan tanggung jawab penuh secara menyeluruh terhadap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan mulai dari pasien masuk sampai keluar dari rumah sakit, mendorong praktik kemandirian perawat, ada kejelasan antara pembuat rencana asuhan dan pelaksana. Metode primer ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, mengimplementasikan dan mengkoordinasikan asuhan keperawatan selama pasien dirawat. Penanggung jawab dilaksanakan oleh perawat primer (PP). Setiap PP merawat 4-6 klien dan bertanggung jawab terhadap klien selama 24 jam dari klien masuk sampai dengan pulang. Terdapat kontinuitas asuhan keperawatan yang bersifat komperhensif dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam satu grup PP mempunyai beberapa PA dan perawatan dilanjutkan oleh PA. Kelebihan dari model primer ini adalah model ini bersifat kontinu dan komperhensif dalam melakukan proses keperawatan kepada klien dan perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan memungkinkan pengembangan diri. Keuntungan yang dirasakan adalah pasien merasa dimanusiakan karena terpenuhinya kebutuhan secara individu. Selain itu asuhan yang diberikan bermutu tinggi dan tercapai pelayanan yang efektif terhadap perawatan, dukungan, proteksi, informasi dan advokasi. Kelemahan dari model ini adalah model ini hanya dapat dilaksanakan oleh perawat yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai dengan kriteria asertif, mampu mengatur diri sendiri, kemampuan pengambilan keputusan yang tepat, penguasaan klinik, akuntabel dan mampu berkomunikasi dan berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu. 5)Metode Cash Management Adalah strategi untuk mengkoordinasikan pelayanan, mempertahankan kualitas, cost containment sambil menfokuskan pada outcome pelayanan. Merupakan metode yang menggunakan pola terfokus dan kerjasama yang sangat ketat antara perawat dengan tim kesehatan lain dengan memanfaatkan care map yang telah disusun dan disepakati oleh semua anggota tim pelayanan dalam rumah sakit. Elemen dari nursing case management methode adalah nurse case manager (NCM) dan clinical path atau multidisciplinary action plan (MAP). Syarat NCM adalah perawat yang berpendidikan S1 atau nurse clinical spesialist atau master keperawatan dengan pengalaman klinis minimal 3 tahun. NCM ditugaskan menangani pasien pada saat masuk berdasarkan spesialisasinya yang kemudian mengkoordinasikan pelayanan sampai pasien pulang. NCM bertanggung jawab memonitor perkembangan pasien apakah sesuai dengan kriteria outcome yang diharapkan. Perkembangan itu dikomunikasikan kepada dokter, perawat dan pemberi pelayanan kesehatan lain. Semua pemberi pelayanan kesehatan bekerja sama untuk mengurangi length of stay (LOS) sambil memusatkan perhatian pada masalah-masalah pasien. Perawatan MAP adalah kombinasi rencana perawatan (nursing care plan/NCP) dan critical path. Alasan utama menggunakan perawatan MAP adalah untuk memberikan pedoman tertulis untuk mengidentifikasi kebutuhan pasien dan keluarga. Semua pemberi pelayanan mengikuti care MAP untuk meningkatkan mutu pelayanan, mengurangi LOS, mengubah pola praktik utuk meningkatkan efisiensi, memfasilitasi pencapaian outcome dan mengurangi biaya serta menurunkan rehospitalisasi. c.Actuating (Pengarahan) Pengarahan adalah tindakan manajemen keperawatan yang bertujuan menyelesaikan sasaran keperawatan atau proses penerapan rencana manajemen untuk menyelesaikan sasaran keperawatan. Pengarahan meliputi proses pendelegasian, pengawasan, koordinasi dan pengendalian, implementasi, rencana organisasi (Swanburg, 2000). Actuating tidak lepas dari kemampuan manajer/pimpinan untuk bisa mengarahkan stafnya ataupun bawahannya untuk menjalankan fungsi masing-masing dengan baik. Tiga elemen utama dalam pengarahan adalah mewujudkan pengawasan dalam personel perawatan: motivasi, kepemimpinan, dan komunikasi (Swanburg, 2000). 2.Compensatory reward Kemampuan perawat melakukan praktek profesional perlu dipertahankan, dikembangkan, dan ditingkatkan melalui manajemen SDM perawat yang konsisten dan disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan SDM digambarkan sebagai suatu proses pengelolaan motivasi staf sehingga dapat bekerja secara produktif. Hal ini juga merupakan penghargaan bagi profesi keperawatan karena melalui manajemen SDM yang baik maka perawat mendapatkan kompensasi berupa penghargaan (Compensatory reward) sesuai dengan apa yang telah dikerjakan. Manajemen SDM di ruang Model Praktik keperawatan Profesional (MPKP) berfokus pada proses rekruitmen, seleksi, kontrak kerja, orientasi, penilaian kinerja, dan pengembangan staf perawat. Proses ini selalu dilakukan sebelum membuka ruang MPKP dan setiap ada penambahan perawat baru. 3.Profesional relationship Hubungan profesional dalam pemberian pelayanan keperawatan merupakan standar dari hubungan antara pemberi pelayanan keperawatan (tim kesehatan) dan penerima pelayanan keperawatan (klien dan keluarga) (Cameron, 1997 dalam elizabeth&Kathleen, 2003, hal.29) Pada pelaksanaannya hubungan profesional bisa saja terjadi secara internal artinya hubungan yang terjadi antara pemberi pelayanan kesehatan misalnya antara perawat dengan perawat, antara perawat dengan tim kesehatan dan lain-lain. Sedangkan hubungan profesional secara eksternal adalah hubungan yang terjadi antara pemberi dan penerima pelayanan kesehatan. Kedua hubungan tersebut merupakan suatu siklus yang tidak terpisahkan dalam pemberian pelayanan kesehatan. 4.Patient Care Delivery Bagian terpenting dari patient care delivery adalah discharge planning. Discharge planning atau persiapan pasien pulang adalah suatu bentuk penyerahan kebutuhan pasien yang sebelumnya dirawat oleh perawat di rumah sakit dan setelah di rumah mempercayakan keluarga untuk melakukan perawatan secara mandiri kepada pasien. Tujuan Discharge Planning a.Klien akan memahami masalah kesehatan dan implikasinya b.Klien akan mampu memahami kebutuhan individualnya c.Lingkungan rumah akan menjadi aman d.Tersedia sumber perawatan kesehatan di rumah Komponen dari Discharge Palnning a.Mengkaji kemampuan dan keterbatasan pasien b.Adanya dukungan keluarga dan lingkungan c.Implementasi dan koordinasi rencana keperawatan d.Evaluasi keefektivan keperawatan Petunjuk Discharge Planning a.Mengkaji dan mengidentifikasi kebutuhan keperawatan b.Membuat tujuan bersama pasien c.Memberikan penyuluhan kepada pasien dan keluarga d.Membuat penyerahan perawatan di rumah Evaluasi Discharge Planning yang efektif. Perencanan dan penyerahan harus dicermati guna menjamin kualitas dan kelayakan dari pelayanan. Evaluasi lebih lanjut dari proses pemulangan pasien biasanya membutuhkan waktu setelah pasien pulang dari rumah sakit.

2 komentar:

Ari Wahyu mengatakan...

dapus nya dari mana ni Pak? agar saya bisa belajar langsung dari bukunya

Ari Wahyu mengatakan...

daftar pustakanya mana pak? agar sya bisa belajar dari bukunya langsung